Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 September 2012

Cerpenku : Gelang Pembersih Bumi


Hania sedang berjalan kaki ketika sepulang sekolah. Dia memang tidak mempunyai kendaraan, sebab uang penghasilan kerja ayah dan ibunya tak cukup untuk membeli kendaraan. Namun, itu sama sekali tidak membuat Hania berputus asa. Walaupun tak menjadi anak terkaya di sekolahnya, tapi Hania menjadi anak terpintar di sekolahnya. Hebat, ya?
Hania suka sekali mengumpulkan plastik-plastik bekas yang ia temukan di jalanan. Dari plastik-plastik bekas itu, Hania menyulapnya menjadi gelang-gelang yang indah. Eitsss … Hania bukan menyulapnya, melainkan merangkai plastik-plastik bekas itu menjadi gelang-gelang yang cantik. Nanti, gelang-gelang itu akan Hania jual di sekolahnya. Terbukti, gelang buatan Hania laku keras di lingkungan sekolahnya.
Tujuan Hania hanya satu: membuat gelang-gelang dari plastik bekas untuk membersihkan bumi. Kini, bumi menjadi semakin kotor karena banyak sampah yang menghujani bumi. Maka dari itu, tekad Hania untuk membersihkan bumi sudah bulat. Seperti siang ini, nih ….
“Wah … banyak sekali plastik-plastik bekasnya! Aku ambil, ah!” gumam Hania senang. Baru kali ini, ia mendapatkan plastik-plastik bekas yang banyak.
“Kali ini, aku mau membuat gelang dengan tema apa, ya? Hmmm … aha! Tema polkadot saja!” ujar Hania sambil tersenyum pada dirinya sendiri.


Di rumah, Hania langsung merangkai plastik-plastik bekas itu menjadi gelang-gelang yang indah. Setelah selesai merangkai gelang-gelang tersebut, Hania mengambil cat-cat yang sudah tak terpakai di sudut-sudut rumahnya. Perlahan-lahan Hania mengecat gelangnya dengan rapi.
Usai itu, Hania mengeringkan gelang-gelang buatannya itu di halaman rumahnya. Kebetulan, cuaca hari ini panas. Jadi, hari ini tepat untuk mengeringkan gelang-gelang tersebut.
“Mudah-mudahan aja gelang-gelang ini cepat keringnya! Biar besok hari aku bisa menjualnya ke teman-teman!” kata Hania sambil tersenyum penuh harap.


“Alhamdulillah … akhirnya, gelang-gelangku kering juga!” teriak Hania gembira.
Setelah menunggu selama 3 jam lamanya, akhirnya gelang-gelang buatan Hania itu kering juga. Hania sudah terkantuk-kantuk menunggu gelangnya itu kering semua. Hehehe ….
Setelah gelangnya kering, Hania mulai mengemasi gelang-gelangnya itu dengan plastik. Lalu, diberi harga. Masing-masing gelang itu seharga lima ribu rupiah.
Tiba-tiba … TOK! TOK!
Pintu rumah Hania diketuk oleh seseorang. Dengan terburu-buru, Hania menyembunyikan gelang hasil karyanya di lemari bajunya.
Kreeek … Pintu rumah Hania yang sederhana itu dibuka oleh Hania. Rupanya, yang datang adalah ibu Hania. “Assalamu’alaikum, Nak.”
“Wa ‘alaikum salam, Bu … Ibu, kok, baru pulang?” tanya Hania.
“Iya, soalnya ibu baru pulang dari rumah majikan ibu,” ucap ibu. Keringat yang mengucur deras di dahinya, itu menandakan bahwa ibu sangat capek hari ini.
“Ya, sudah, Bu …. Ibu istirahat di kamar saja dulu. Nanti, Hania saja yang memasak makan malam,” ujar Hania sambil tersenyum manis.
Ibu mengangguk, lalu masuk ke kamarnya. Setelah itu, Hania membuat lagi gelang-gelang yang akan ia jual esok hari.
Pukul 6 sore telah tiba. Hania sedang memasak makan malam untuk dia, ibu, dan ayahnya. Makan malam pada hari itu sangatlah sederhana, yaitu sayur bayam, tempe, dan tahu goring. Sederhana, bukan?
Saat makan malam, ayah bertanya pada Hania, “Hania, berapa nilai ulanganmu hari ini?”
“Nilaiku sembilan puluh lima, Ayah,” jawab Hania jujur.
“Baguslah kalau begitu. Tingkatkan terus belajarmu, ya!” kata ayah sambil tersenyum. Hania hanya bisa mengangguk.


Keesokan harinya ….
“Han, aku beli ini, dong!”
“Haniaaa … aku beli ini!”
“Hania! Aku beli ini, ya?
Banyak sekali teriakan teman-teman Hania yang membeli barang dagangan Hania. Tentu saja, Hania jadi kewalahan. “Heeei! Satu-satu, ya, belinya!”
Akhirnya, teman-teman Hania membeli gelang buatan Hania dengan mengantre. Ya, A-N-T-R-E. Kalau tidak, Hania bisa-bisa kewalahan menghadapi teman-temannya itu.
Rupanya, kegiatan Hania itu diketahui oleh Bu Marina, kepala sekolah SD Anak Bangsa, tempat Hania bersekolah. Bu Marina berencana mengikutkan Hania pada Komunitas Pecinta Bumi! Wah, keren, ya?


“Hania, kamu dipanggil sama kepala sekolah, tuh!” kata Izza, sahabat Hania.
“Duh, aku salah apa, ya? Kok, sampai dipanggil sama Bu Marina?” gumam Hania takut-takut. Memang, baru kali ini Hania dipanggil oleh kepala sekolah.
Sesampainya di ruang kepala sekolah, Hania dipersilakan duduk oleh Bu Marina, sang kepala sekolah. “Hania …. Ibu mau bicara sesuatu sama kamu.”
“Apa itu, Bu?” tanya Hania bingung.
“Kamu mau saya ikutkan ke Komunitas Pecinta Bumi?” tawar Bu Marina.
“Komunitas Pecinta Bumi? Apa itu, Bu?” Hania sama sekali belum mengerti.
“Komunitas Pecinta Bumi adalah komunitas yang senang membersihkan bumi, menyayangi bumi, dan mencintai bumi. Kegiatannya adalah mengumpulkan sampah, dan  nantinya sampah itu akan didaur ulang. Seperti kegiatanmu tadi, yaitu membuat gelang pembersih bumi,” jelas Bu Marina sambil tersenyum.
“Jadi, Bu Marina sudah mengetahui kegiatanku selama ini?” tanya Hania. Bu Marina mengangguk.
Bagaimana, ya? Aku pengin banget ikut komunitas itu. Tapi, nanti daftar jadi anggota komunitas itu bayar, enggak, ya? Aku, kan, enggak punya uang, batin Hania.
“Hania … kamu mau ikut Komunitas Pecinta Bumi?” tanya Bu Marina, yang membuat lamunan Hania buyar.
“Eh? I … iya, Bu, saya mau ikut. Tapi, saya tidak punya uang untuk mendaftarnya,” kata Hania sedih.
“Membayar? Hania … mendaftarkan diri menjadi anggota komunitas itu tidak bayar! Apalagi, kamu ikut Komunitas Pecinta Bumi. Kalau kamu ikut komunitas itu, sama sekali tidak membayar apapun,” jelas Bu Marina.
“Oh, gitu, ya … Baiklah, Bu, saya mau ikut komunitas itu. Tapi, kapan saya harus mendaftarkan diri?” Hania bertanya sekali lagi.
“Sepulang sekolah, kamu ikut ibu ke tempat komunitas itu, ya. Ibu akan daftarkan kamu,” ujar Bu Marina sambil tersenyum. Hania mengangguk senang.
Setelah pamit untuk kembali ke kelas, Hania berkata dalam hati. Akhirnya, aku bisa ikut dalam Komunitas Pecinta Bumi! I like it!


Di bawah sinar matahari itu, Bu Marina dan Hania sedang dalam perjalanan ke tempat Komunitas Pecinta Bumi. Tiba-tiba, Bu Marina memberi tahu sesuatu kepada Hania. “Oh, iya, Hania … Dua hari lagi, Komunitas Pecinta Bumi akan mengadakan pameran barang-barang kesenian seperti gelang-gelang yang kamu buat. Bahan-bahan yang didaur ulang untuk pameran kesenian itu juga dari plastik bekas. Nanti, hasil kerajinan tanganmu akan dinilai seberapa bagus dan kreatifnya,” jelas Bu Marina panjang lebar.
“Oh, baiklah, Bu … akan saya lakukan dengan sebaik-baiknya!” tukas Hania sambil tersenyum. Di dalam senyum manisnya, Hania tampak amat bangga. Tentunya, ia senang dapat menjadi anggota Komunitas Pecinta Bumi. Akan tetapi, ia juga harus menjalankan amanah, dengan membawa nama baik sekolahnya! Kira-kira, Hania bisa, enggak, ya, jadi anggota terbaik komunitas dalam pameran kesenian nanti? Hmmm ….

 “Wow, ini bagus banget! Wonderful …!” puji salah satu pengunjung di pameran kesenian.
Yap, sekarang adalah waktunya di pameran kesenian! Hania sudah selesai membuat 25 gelang dalam waktu seminggu! Wow, hebat ya?
Motif pada gelang-gelang yang dibuat oleh Hania itu bermacam-macam. Ada yang motifnya polkadot, bunga, bintang, anime, sampai tulisan-tulisan yang keren banget! Banyak sekali yang mengunjungi tempat Hania. Kata para pengunjung, gelang-gelang buatan Hania itu kreatif … tif … tif! Hehehe ….
Para kakak-kakak juri dari pameran kesenian itu sudah menilai, siapa yang akan mendapatkan penghargaan sebagai ‘Anggota Terbaik Komunitas Pecinta Bumi’. Nanti siang, akan diumumkan siapa yang akan mendapatkan penghargaan itu. Tentunya, yang akan mendapatkan penghargaan itu anak yang sering kita dengar namanya? Tapi … siapa, ya?


 “Baiklah, saya akan mengumumkan siapa yang akan menerima penghargaan ‘Anggota Terbaik Komunitas Pecinta Bumi’. Karena anggotanya di sini perempuan semua, maka akan diberi gelar ‘Miss Pecinta Bumi’,” jelas Kak Fildza, pengurus Komunitas Pecinta Bumi.
Anggota komunitas sudah mulai geregetan menunggu hasil yang akan dibacakan. Hania juga seperti itu. Dia mulai tidak sabar menunggu hasilnya.
“Anggota terbaik Komunitas Pecinta Bumi adalah … HANIA AMANDA PUTRI! Selamat untuk Hania, Miss Pecinta Bumi!” teriak Kak Fildza.
YES! YES! Aku jadi pemenangnya! I’m champion …! teriak Hania dalam hati. Berkali-kali dia memanjatkan syukur kepada Allah, Tuhan Semesta Alam.
Setelah menerima penghargaan dari para pengurus Komunitas Pecinta Bumi, tiba-tiba ibu dan ayah menghampiri Hania sambil tersenyum bangga. “Selamat, ya, Hania. Kami bangga sekali padamu.”
“Terima kasih, Bu. Terima kasih, Yah!” ucap Hania sambil menghambur ke pelukan orangtuanya. Oh, so sweet …

Kamis, 26 Juli 2012

Sutradara Cilik


Kanita adalah seorang anak dari sutradara terkenal di negerinya. Banyak sekali film-film yang disutradarai oleh papa Kanita. Film-film yang disutradarai oleh apa Kanita juga disukai oleh semua orang di negerinya. Namun, Kanita tak pernah sekalipun menyukai film yang disutradarai oleh papanya.

Alasan Kanita tak menyukai film papanya, seperti pagi ini. Papa Kanita sudah membujuk Kanita untuk ikut ke lokasi tempat papanya bekerja. Akan tetapi, Kanita malah makin asyik bermain playstation.
“Kanita … ikut papa ke lokasi tempat papa bekerja, yuk! Udara di sana segar sekali, lho! Soalnya, lokasi tempat papa bekerja itu dekat dengan pegunungan. Kamu mau ikut?” bujuk papa.
“Enggak. Aku enggak mau ikut!” tolak Kanita.
“Kenapa kamu tidak mau ikut? Biasanya, kamu suka dengan keindahan alam seperti pegunungan. Mengapa sekarang tidak?” tanya Papa heran.
“Pokoknya, aku enggak mau ikut!” tolak Kanita sekali lagi.
“Baiklah … papa takkan memaksamu. Ya, sudah, papa berangkat dulu, ya …,” ujar papa sambil menghela napas.
“Eh? Aku ikut, deh, Pa! Aku takut sendirian, nih, di rumah!” kata Kanita tiba-tiba sambil nyengir. Papa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anaknya itu.
Di perjalanan, Kanita masih asyik membaca majalah kesukaannya. Tiba-tiba, Kanita terbelalak melihat pemandangan tempat papanya bekerja menjadi sutradara. Pegunungan di sana tampak mempesona. Udara juga segar sekali. Hal ini membuat Kanita betah di tempat papanya bekerja.
“Pa …,” panggil Kanita pelan.
“Ya? Ada apa, Kanita?” tanya papa.
“Papa betah enggak kerja di sini?” tanya Kanita dengan amat hati-hati.
“Tentu saja! Oh … papa tahu, kamu mau jadi sutradara cilik, kan?” tebak papa sambil tersenyum.
“Eh? Enggak tahu, tuh, Pa. Ya, sudah, aku lihat-lihat pegunungan dulu, ya, Pa!” Kanita jadi gelagapan ketika keinginannya ditebak oleh papa. Sementara itu, papa hanya bisa tersenyum.
Udara di tempat papa bekerja memang lumayan dingin. Maka dari itu, Kanita memakai jaket pemberian papanya. Sejak Kanita berumur 8 tahun, Kanita sudah menyimpan jaket pemberian papa. Sampai sekarang, jaket itu masih terawat dengan baik.
“Hmmm … jadi sutradara cilik itu enak apa enggak, sih?” gumam Kanita. Dia bertanya pada dirinya sendiri. “Mungkin asyik!”
Tidak lama kemudian, Kanita mendatangi papanya dan berkata, “Pa, aku mau jadi sutradara cilik!”
“Baiklah … kamu ikut papa menyutradarai film ini, ya?” kata papa. Kanita pun mengangguk.
Sampai sekarang, Kanita tetap menjadi sutradara. Walaupun, tak menjadi sutradara cilik!


Sabtu, 02 Juni 2012

Cerpenku : Kacamata Sherina


Hai …! Perkenalkan, namaku Liana Muthia. Biar lebih akrab, panggil saja Liana saja, ya. Aku duduk di bangku kelas empat, tepatnya bersekolah di SDI Fathah Insani. Nah, aku punya sebuah cerita tentang seorang temanku. Dengarkan baik-baik, ya ….
            Aku punya seorang teman yang memakai kacamata, namanya Sherina. Dia, tuh, anak yang paling kutu buku di kelasku! Makanya, Sherina itu memakai kacamata. Setiap hari, pasti kacamata miliknya gonta-ganti. Lho ...? Kok, bisa, ya? Aku sendiri juga tidak tahu. Hehehe ….
            Kacamata Sherina itu banyak banget jumlahnya. Misalnya, hari ini dia pakai kacamata yang berwarna biru muda. Terus, besoknya dia pakai kacamata yang berwarna hitam. Aneh banget, kan? Maka dari itu, aku bingung banget sama Sherina. Teman-teman di sekolahku juga merasakan apa yang aku rasakan.
            Sepulang sekolah, aku, Vira, Mira, dan Zahra, berjalan bersama menuju ke warung es campur Bu Wina. Kami berempat bersahabat sejak kelas dua.
            Sesampainya di warung es campur, aku terlonjak kaget. Ternyata, di warung es campur ini ada Sherina! Dia sedang berbicara dengan Hania, sahabatnya. Aku dan sahabatku sempat mendengar pembicaraan mereka.
            “Kamu, kok, gonta-ganti kacamata terus, sih?” tanya Hania penasaran kepada Sherina.
            “Mmm … jangan bilang sama siapa-siapa, ya! Sebenarnya, aku memakai kacamata hanya untuk bergaya saja,” ucap Sherina pelan.
            “HAH …?! KOK BISA?” pekik Hania dengan suara yang keraaas … banget!
            “Ssst …! Kan, sudah kubilang, jangan teriak-teriak, dong! Nanti, yang lain malah tahu!” omel Sherina. Tampak dari wajahnya, Sherina sangat kesal terhadap sahabatnya itu.
            “Sorry, deh! Aku, kan, enggak sengaja. Oh, iya, ngapain kamu memakai kacamata, hanya untuk bergaya saja? Itu, kan, enggak baik, Sherina! Apa lagi, teman-teman kita sudah mengira kamu itu sakit mata betulan!” ujar Hania dengan nada bicara yang sangat tinggi.
            “Maafkan aku, ya! Sebenarnya, aku tidak mau menipu orang-orang di sekitarku. Tapi, setelah kupikir-pikir, banyak juga orang-orang yang memakai kacamata, tapi hanya untuk bergaya. Tapi, lama kelamaan, aku jadi ketularan mereka, deh! Aku sadar, perbuatanku ini sama sekali tidak baik. Jadi … forgive me, please?” mohon Sherina dengan raut wajah memelas.
            “Hmmm …,” Hania berpikir sejenak, “baiklah, aku akan memaafkanmu. Tapi, dengan satu syarat!”
            “Apa syaratnya?” tanya Sherina penasaran.
            “Syaratnya adalah … kamu harus memberitahu teman-temanmu, bahwa kamu memakai kacamata, hanya untuk bergaya saja! Jadi, kamu harus mengaku. Itu harus kamu lakukan. Kalau tidak, aku tidak akan memaafkanmu!” tandas Hania dengan nada bicara yang lumayan tinggi.
            “Hmmm … baiklah. Aku akan melakukannya,” sahut Sherina pelan.
            Hah …? Jadi, selama ini Sherina memakai kacamata hanya untuk bergaya saja? Sherina telah menipu banyak orang. Karena, orang-orang di sekitar Sherina menganggap bahwa Sherina itu terkena penyakit mata, makanya dia pakai kacamata. Tapi, tanggapan itu salah. Sherina benar-benar keterlaluan!
            “Teman-Teman, ternyata Sherina itu telah menipu kita!” seruku tiba-tiba.
            “Yap! Kamu betul sekali! Tapi, aku masih bingung,” ungkap Zahra dengan nada bicara pelan.
            “Bingung kenapa? Kan, masalahnya sudah jelas! Sherina itu memakai kacamata hanya untuk bergaya! Zahra … Zahra. Masa, kamu masih bingung?” sanggah Vira gemas.
            “Bukan itu masalahnya. Aku bingung, karena masalah Sherina. Karena hanya ingin mengikuti tren terbaru, Sherina rela menipu banyak orang! Apakah itu perbuatan baik?” ujar Zahra.
            “Tentu saja tidak!” balas Mira yang sedari tadi berdiam diri.
            “Hmmm … aku punya ide, nih, untuk mengatasi masalah Sherina!” seruku bersemangat. Aku sudah menyiapkan rencana untuk mengatasi permasalahan Sherina.
            “Apa …?” tanya ketiga sahabatku sambil tersenyum lebar.
            “Begini, kita akan … pssst  … terus, kita beri tahu … pssst …,” aku membisikkan ke telinga Vira. Lalu, Vira membisikkan apa yang kukatakan tadi kepada Zahra. Zahra pun melakukan apa yang telah dilakukan olehku dan Vira. Akhirnya, Vira, Mira dan Zahra mengerti tentang rencanaku.
            “Liana, kapan kita jalankan rencana itu?” tanya Zahra.
            “Minggu depan. Ya, besok, Zahra! Kamu serius sedikit, dong!” omelku. Aku kesal banget sama Zahra yang kadang-kadang suka tulalit itu.
            “Sudahlah, Liana … kamu tidak perlu memarahi Zahra seperti itu. Nanti, rencana kita malah gagal,” nasihat Mira sambil merangkul pundakku.
            “Betul, tuh, apa kata Mira! Ya, sudah, kita minum dulu saja es campurnya. Nanti, es campurnya malah jadi enggak enak,” sahut Vira sambil meneguk es campur miliknya. Sama sepertiku. Sluuurp …. Ah, segarnya!
            Saat aku dan para sahabatku sedang mengobrol di warung es campur, Sherina dan sahabatnya, Hania, beranjak pergi meninggalkan warung es campur. Sepertinya, Sherina tahu kalau aku dan para sahabatku sedang mendengarkan obrolannya dengan Hania. Setelah Sherina dan Hania pergi, aku dan para sahabatku juga pulang ke rumah masing-masing.
            Aku semakin tidak sabar, karena akan menjalani rencana untuk mengatasi permasalah Sherina. Seperti apa, ya, raut wajah Sherina saat ditanya nanti? Duh, aku semakin tidak sabar saja!
            Keesokan harinya, aku, Vira, Mira, dan Zahra datang pagi-pagi sekali ke sekolah. Kami berniat menemui Sherina. Kebetulan, dia sedang duduk-duduk santai di taman sekolah.
            “Sherinaaa …!” panggilku dengan nada bicara yang lumayan keras.
            “Eh … oh … ada Liana. Ada apa, ya?” tanya Sherina gugup. Sepertinya, dia tahu bahwa aku akan menanyakan sesuatu yang penting sama dia.
            “Enggak ada apa-apa, kok, Sher. Kami ke sini cuma mau nanya sesuatu sama kamu,” jelas Mira lembut.
            “Hmmm … kalian mau nanya apa sama aku?” tanya Sherina sambil menghela napas panjang.
            “Memangnya benar, ya, kamu itu memakai kacamata, hanya untuk bergaya saja? Jawab dengan jujur!” tandasku dengan nada bertanya.
            “Ti … tidak, kok? Kalian, kok, menuduhku seperti itu, sih?” balas Sherina dengan gugup.
            “Eh, kami tidak menuduhmu yang tidak-tidak, kok! Kami hanya bertanya, bukan menuduh! Kami hanya ingin kamu menjawab pertanyaan kami dengan jujur! Itu saja, kok!” seru Vira dengan raut wajah marah.
            “Aku memang memakai kacamata, tapi tidak untuk bergaya! Aku tidak berbohong!” ketus Sherina.
            “Sudah, sudah! Kalian ini kenapa, sih? Tidak perlu bertengkar, kok!” lerai Mira.
            “Sudah, deh! Mendingan kami ke kelas saja! Ayo …!” ucapku kepada Vira, Mira, dan Zahra. Aku dan ketiga sahabatku langsung pergi meninggalkan Sherina.
            “Duh, kok, mereka bisa tahu, ya, kalau aku memakai kacamata, hanya untuk bergaya? Apa Hania memberitahu mereka? Huuuh …!” Sherina berdecak kesal sambil menghentakkan kaki.
            Di kelas, aku dan ketiga sahabatku sedang mengobrol tentang masalah Sherina. Aku masih bingung, kenapa Sherina itu tidak mengaku saja, kalau dia itu memakai kacamata hanya untuk bergaya. Itu, kan, lebih baik dan Sherina takkan menipu banyak orang lagi.
            “Aku masih heran banget sama Sherina,” ujarku pelan.
            “Aku juga. Kenapa, sih, dia itu tidak mau mengaku? Kalau begini terus, dia bakal menipu banyak orang lagi,” timpal Vira sambil melipat tangan.
            “Bagaimana, kalau kita laporkan saja ke Bu Tina? Bu Tina, kan, guru kelas kita! Siapa tahu, dia bisa membantu menyelesaikan masalah Sherina!” usul Zahra.
            “Jangan dulu! Masalah Sherina itu, kan, masalah yang tidak terlalu besar. Kalau kita bilang sama Bu Tina, malah jadi besar masalahnya,” sergahku sambil menahan langkah Zahra yang akan pergi ke ruang kepala sekolah, tempat Bu Tina berada.
            “Terus, masalah Sherina itu mau kita apakan?” tanya Mira bingung.
            “Kita selesaikan saja sendiri! Maksudku, masalah Sherina ini biar kita yang menyelesaikan. Kita bujuk Sherina supaya dia mengatakan yang sebenarnya. Nah, kalau Sherina tidak mau, kita bujuk saja Hania. Dia, kan, sudah menyuruh Sherina untuk mengaku. Insya Allah, Hania akan mengatakan yang sebenarnya tentang masalah Sherina,” jelasku panjang … jang ... lebar. Hehehe ….
            “Oke, aku setuju!” timpal Vira sambil tersenyum simpul.
            “Me too …!” kata Zahra sambil menepuk bahuku, artinya dia setuju atas usulanku.
            “Wah … Zahra sudah mulai berbahasa Inggris, nih! Hahaha …. Oh, iya, usulan Liana tadi, aku setuju!” kata Mira sambil tertawa melihat Zahra yang berbicara memakai bahasa Inggris.
            “Biarin! Aku, kan, juga mau pintar dalam bahasa Inggris! You understand?” ucap Zahra sambil melipat tangan. Tapi, aku tahu, Zahra itu hanya bercanda. Memang, sih, logat bahasa Inggris Zahra itu bagus, tapi … raut mukanya itu, lho … lucu banget! Hahaha ….
            “Ya, sudah, deh. Oh, iya, sudah bel, tuh! Yuk, kita masuk kelas! Kita membujuk Sherina saat istirahat saja,” ujar Vira. Aku, Mira, dan Zahra mengangguk, lalu berjalan menuju ke kelas.
            Saat istirahat, aku dan ketiga sahabatku ke luar kelas untuk mencari Sherina. Rupanya, Sherina sedang membaca buku di perpustakaan sekolah.
            “Hai, Sher!” sapaku sambil tersenyum manis ke arah Sherina.
            “Eh, ada kalian. Ada apa, ya?” tanya Sherina. Tampaknya, dia tahu kami akan menanyakan tentang kacamatanya. Tapi, kenapa dia pura-pura tidak tahu, ya?
            “Hmmm … langsung to the point saja, ya. Kami ingin kamu menjawab pertanyaan kami dengan jujur,” tandas Vira.
            Sherina tampak gelisah sebelum menjawab pertanyaan dari kami.
            “Memangnya, kamu memakai kacamata itu hanya untuk bergaya saja? Jawab dengan jujur!” ucap Mira tegas. Mira itu memang tegas dan berwibawa.
            “Eh … dari mana kalian tahu?” tanya Sherina berbasa-basi. Aku tahu, Sherina itu hanya mengalihkan pembicaraan.
            “Sudahlah, Sherina. Jawab saja dengan jujur! Kalau tidak, kami akan menemui Hania untuk mengatakan yang sebenarnya!” ancam Zahra.
            “Oke, aku mengaku. Aku memang memakai kacamata hanya untuk bergaya. Aku memakai kacamata, karena aku mengikuti tren saat ini. Setelah kupikir-pikir, ternyata perbuatanku salah. Maafkan aku, ya.” Sherina tampak menahan tangisnya. Sungguh, aku sangat terkejut, saat mendengar pernyataan Sherina tadi. Perbuatan Sherina itu memang sudah keterlaluan!
            “Astaghfirullah … bagaimana kamu bisa melakukan hal keji ini? Kamu berdosa, lho, karena sudah melakukan hal ini! Kamu itu telah menipu banyak orang, dan orang mengira bahwa kamu itu memakai kacamata, karena kamu terkena penyakit mata. Apakah kamu tidak merasa bersalah?” seru Vira dengan raut muka marah. Sepertinya, Vira sangat marah akibat perbuatan Sherina.
            “Maafkan aku, Teman-Teman,” ucap Sherina lirih.
            “Ya, kami akan memaafkanmu. Asalkan dengan satu syarat!” seruku sambil mendekati Sherina.
            “Apa syaratnya? Yang penting, kalian mau memaafkanku!” ujar Sherina pelan.
            “Syaratnya adalah … kamu harus meminta maaf kepada semua orang yang telah kamu tipu! Jika tidak, kami takkan pernah memercayaimu!” ancam Zahra.
            “Baiklah. Akan kuusahakan. Terima kasih, ya, sudah memaafkanku! Aku pergi dulu, ya. Assalamu ‘alaikum!” kata Sherina dengan raut muka gembira. Tampak dari wajahnya, dia sudah lebih tenang dan lega.
            “Wa ‘alaikum salam!” jawab aku dan ketiga sahabatku. Aku mendesah lega, karena masalah Sherina sudah terselesaikan.
            Nah, itulah pengalamanku dalam menyelesaikan masalah. Seperti detektif juga, sih! Tapi, seru banget, lho!

Senin, 07 Mei 2012

Blog Misterius

Namanya Muthia Handini Khairunnisa. Dia suka banget nge-blog. Kalau hari libur, dia selalu nge-blog. Sejak kelas empat SD, Muthia emang suka banget sama yang namanya blog. Sekarang, dia sudah kelas enam SD. Blog miliknya pun semakin menarik dan banyak pengikutnya. Dia menjadi bertambah senang.

Suatu hari, Muthia membuka sebuah blog. Nama blog itu adalah http://muthiabeautiful.blogspot.com. Muthia terkejut. Itu, kan, namanya! Hmmm ... harus diselidiki, nih! Muthia pun terus mencari informasi tentang blog itu. Isi blog itu memang hampir sama dengan blog Muthia yang sekarang. Tapi, Muthia tidak merasa itu blog miliknya. Muthia jadi bingung.

Akhirnya, Muthia kembali membuka blog itu. Saat dia melihat profil pemilik blog itu, fotonya adalah foto Muthia! Oh, ternyata itu blog Muthia saat dia duduk di bangku kelas empat SD! Hahaha ... Muthia, Muthia. Makanya, kalau mau bikin blog itu, ingat-ingat dulu kapan kita membuatnya. Jangan seperti Muthia, blog jadi tidak terurus lagi, deh! Mulai saat ini, Muthia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menelantarkan blog. ^_^

Senin, 16 April 2012

Kemah Nasional JSIT 2012

Assalamu 'alaikum ....
       Hai ...! Ini, nih, aku mau cerita tentang pengalamanku saat berada di Kemah Nasional. Dengarkan baik-baik, ya ....
     Pada hari Selasa, tanggal 12 Januari 2012, aku bersama rombongan sekolahku (yang SD dan SMP) berangkat menuju ke bandara Sultan Syarif Kasim. Karena kami berangkatnya pukul 10.00 pagi, sementara jadwal berangkat ke Jakarta pukul 11.00 siang, jadi aku dan rombongan sekolahku shalat Dhuha dulu di Masjid Al Muhajirin, yang bertempat di sebelah bandara Sultan Syarif Kasim.
     Setelah selesai shalat Dhuha, aku bersama rombongan sekolahku langsung ke ruang tunggu pesawat, jaga-jaga supaya enggak ketinggalan pesawat gituuuu .... hehehe .... Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, akhirnya pesawat tumpangan aku dan rombongan sekolahku tiba juga di bandara Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru. Kami langsung memasuki Pesawat Garuda, pesawat yang akan kami tumpangi menuju ke Jakarta. Subhanallah ... di dalam pesawat, aku bisa melihat kota Pekanbaru yang indah dan bersih. Ckckck ....
     Oke ...! Balik lagi ke Kemah Nasional. Setelah menunggu sekitar satu jam lewat tiga puluh menit, akhirnya aku dan rombongan sekolahku tiba juga di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Walaupun sudah beberapa kali ke Jakarta, tapi aku masih saja terpukau akan keramaian kota Jakarta! Guru-guru Pramuka dari sekolahku yang ikut ke Jakarta telah memesan dua bus untuk kami tumpangi menuju ke Apartemen. Eits, jangan salah, lho! Hari pertama aku di Jakarta, memang harus menginap di Apartemen. Sebab, Kemah Nasional diadakan di Cibubur. So, pasti akan memakan waktu lama, kan, untuk ke Cibubur? Maka dari itu, aku dan rombongan sekolahku memilih beristirahat di Apartemen dulu saja. Oh, iya, aku dan rombongan sekolahku akan berada di Jakarta selama tujuh hari, alias seminggu. Jadi, lima hari di Cibubur, dan dua hari di Apartemen (maksudnya, saat mau pulang-pergi).
       Setibanya di Apartemen, aku langsung merebahkan badan ke ranjang Apartemen yang empuk. Hufff ... beneran, perjalanan Pekanbaru-Jakarta melelahkan banget! Malamnya, aku bersama rombongan sekolahku makan malam di Iga Bakar Resto. Sebenarnya, sih, aku capek banget. Tapi, aku juga lapar. Jadi kuputuskan saja untuk ikut makan malam. Pasti semua teman-temanku juga pada ikut. Siapa, sih, yang nolak kalau diajak makan-makan? Hehehe ....
     Selesai makan malam, aku bersama rombongan sekolahku kembali ke Apartemen menggunakan Bus Canary White Hourse. Subhanallah ... sungguh, Bus itu seperti pesawat saja! Kursinya lebar, terus di depannya ada TV-nya (maksudnya, kursi di depanku tuh kan, punya sisi depan belakang, nah, kursi di depanku itu sisi belakangnya terdapat TV). Apalagi, Bus itu dilengkap pendingin ruangan atau seperti AC. Saking senangnya, salah satu temanku ada yang terjatuh dari kursi, karena takjub melihat seluruh isi Bus mewah ini. Hahaha ... cara jatuhnya pun lucu!
     Sesampainya di Apartemen, aku sekamar sama Kak Rufaidah dan Kak Harsa. Aku-lah yang paling muda di kamar itu. Kak Harsa kelas 6 SD, Kak Rufaidah kelas 5 SD, sementara aku kelas 4 SD. Kami bertiga berurutan, kan? Ok ... setelah shalat Isya, aku langsung merebahkan tubuhku ke ranjang Apartemen yang empuk. Tak lama kemudian, aku tertidur pulas di samping Kak Harsa dan Kak Rufaidah. Zzz ... zzz ... zzz ....
       Selama di Kemah Nasional, Cibubur, aku merasakan betapa susahnya orang yang enggak punya rumah. Bayangkan saja, dalam satu tenda, aku dan teman-temanku bersempit-sempitan untuk berebut wilayah. Wilayah apa? Wilayah untuk tidur, lah .... Soalnya, kalau enggak dapat bagian wilayah tidur, dia bakalan kesempitan saat tidur. Kalau guru-guru Pramuka dari sekolahku, mah, enak! Soalnya, guru pramuka yang perempuan dari SD-ku cuma tiga, dan guru pramuka yang perempuan dari SMP cuma empat. Jadi, di tenda itu pasti luas, kan? Sementara kami? Sudahlah bersempit-sempitan, banyak barangnya lagi! Uuughhh ....!
       Tapi, semua itu terbayarkan saat aku dan teman-temanku mengikuti Lomba Tali-Temali yang diikuti oleh seluruh SDIT di seluruh Indonesia! Pasti banyak, kan, pesertanya? Maka dari itu, aku enggak mau kalah. Aku satu tim sama Kak Harsa dan Saffanah, karena kami ikut lomba Tandu. Sementara Kak Izzah, Kak Devi, dan Kak Etika ikut Lomba Tali-Temali juga, tapi mereka termasuk Lomba Tiang Bendera. Di sertai doa dan zikir di dalam hati, aku dan teman-temanku terus berjuang untuk menyelesaikan Tandu yang kami buat secepatnya. Dalam waktu dua puluh menit, aku bersama timku selesai membuat tandu. Itu juga sudah disertai dengan kerapian tandu. Dalam hati, aku terus berdoa supaya timku menang.
     Tibalah saatnya pengumuman pemenang Lomba Tali-Temali. Hatiku berdebar kencang, menunggu panitia Kemah Nasional membacakan nama pemenang.
     "Pemenang Lomba Tali-Temali, dalam kelompok Tandu adalah ...." suara panitia Kemah Nasional terasa keras di telingaku.
     "REGU MELATI DARI SDIT NURUL FIKRI DEPOK ...!!!" teriak panitia Kemah Nasional itu dengan nada bicara yang sangat keras. Yaaah ... timku enggak menang, deh! Tapi, enggak apa-apa deh. Siapa tahu, masih ada lomba-lomba lain yang bisa kumenangkan. Amiiin ....
   Tapi, untuk lomba Tahfidz, sekolahku menjadi juaranya lho ...! Kak Rufaidah-lah yang mewakili sekolahku dalam lomba Tahfidz. Dia memang jagonya dalam membaca Al Qur'an. Negara Malaysia dan Thailand juga ikut dalam Kemah Nasional JSIT 2012. Walaupun Nasional, Malaysia dan Thailand bisa ikut juga. Sekolahku medapat juara dua dalam Lomba Tahfidz. Bahkan, sekolahku dapat mengalahkan Malaysia dan Thailand, lho! Soalnya, juara satu diraih oleh SDIT Al-Ittihad, Pekanbaru, Riau. Juara duanya sekolahku. Dan juara tiganya diraih oleh SDIT Mutiara Hati Pekanbaru, Riau. Wah, semua juaranya kok dari Riau, ya? Tapi, itu adalah kejutan tersendiri buatku. Sungguh, itu pengalaman yang tak terlupakan olehku!